Blogger Themes

News Update :

Teori Pengkondisian Klasik Ivan Pavlov

Jumat, 15 Juni 2012

Ivan Petrovich Pavlov adalah orang Rusia.  Ia menemukan Classical Conditioning di dekade 1890-an.  Namun karena pada saat itu negerinya tertutup dari dunia barat, bukunya dalam edisi bahasa Inggris Conditioned Reflexes: An Investigation of the Physiological Activity of the Cerebral Cortex baru bisa diterbitkan tahun 1927. Teorinya disebut klasik karena kemudian muncul teori conditioning yang lebih baru.  Ada pula yang menyebut teorinya sebagai learned reflexes atau refleks karena latihan, untuk membedakan teorinya dengan teori pengkondisian disadari-nya Skinner.
a.  Percobaan Pavlov
Pengkondisian Klasik atau Classical conditioning ditemukan secara kebetulan oleh Pavlov di dekade 1890-an.  Saat itu Pavlov sedang mempelajari bagaimana air liur membantu proses pencernaan makanan. Kegiatannya antara lain memberi makan anjing eksperimen dan mengukur volume produksi air liur anjing tersebut di waktu makan.  Setelah anjing tersebut melalui prosedur yang sama beberapa kali, ternyata mulai mengeluarkan air liur sebelum menerima makanan.  Pavlov menyimpulkan bahwa beberapa stimulus baru seperti pakaian peneliti yang serba putih, telah diasosiasikan oleh anjing tersebut dengan makanan sehingga menimbulkan respons keluarnya air liur.  Proses conditioning biasanya mengikuti prosedur umum yang sama.  Misalkan seorang pakar psikologi ingin mengkondisikan seekor anjing untuk mengeluarkan air liur ketika mendengar bunyi lonceng.  Sebelum conditioning, stimulus tanpa pengkondisian (makanan dalam mulut) secara otomatis menghasilkan respons tanpa pengkondisian (mengeluarkan air liur) dari anjing tersebut. Selama pengkondisian, peneliti membunyikan lonceng dan kemudian memberikan makanan pada anjing tersebut.  Bunyi lonceng tersebut disebut stimulus netral karena pada awalnya tidak menyebabkan anjing tersebut mengeluarkan air liur. Namun, setelah peneliti mengulang-ulang asosiasi bunyi lonceng-makanan, bunyi lonceng tanpa disertai makanan akhirnya menyebabkan anjing tersebut mengeluarkan air liur. Anjing tersebut telah belajar mengasosiasikan bunyi lonceng dengan makanan. Bunyi lonceng menjadi stimulus dengan pengkondisian, dan keluarnya air liur anjing disebut respons dengan pengkondisian.
b.  Prinsip-prinsip Pengkondisian Klasik Pavlov
Menindaklanjuti temuannya sebelumnya, Pavlov dan koleganya berhasil mengidentifikasi empat proses: acquisition (akuisisi/fase dengan pengkondisian), extinction (eliminasi/fase tanpa pengkondisian), generalization (generalisasi), dan discrimination (diskriminasi).
  1. 1.      Fase Akuisisi
Fase akuisisi merupakan fase belajar permulaan dari respons kondisi-sebagai contoh, anjing ‘belajar’ mengeluarkan air liur karena pengkondisian suara lonceng.  Beberapa faktor dapat mempengaruhi kecepatan conditioning selama fase akuisisi.  Faktor yang paling penting adalah urutan dan waktu stimuli. Conditioning terjadi paling cepat ketika stimulus kondisi (suara lonceng) mendahului stimulus utama (makanan) dengan selang waktu setengah detik. Conditioning memerlukan waktu lebih lama dan respons yang terjadi lebih lemah bila dilakukan penundaan yang lama antara pemberian stimulus kondisi dengan stimulus utama.  Jika stimulus kondisi mengikuti stimulus utama-sebagai contoh, jika anjing menerima makanan sebelum lonceng berbunyi-conditioning jarang terjadi.
  1. 2.      Fase Eliminasi
Sekali telah dipelajari, suatu respons dengan kondisi tidaklah diperlukan secara permanen.  Istilah extinction (eliminasi) digunakan untuk menjelaskan eliminasi respons kondisi dengan mengulang-ulang stimulus kondisi tanpa stimulus utama.  Jika seekor anjing telah ‘belajar’ mengeluarkan air liur karena adanya suara lonceng, peneliti dapat secara berangsur-angsur menghilangkan stimulus utama dengan mengulang-ulang bunyi lonceng tanpa memberikan makanan sesudahnya.
  1. 3.      Generalisasi
Setelah seekor hewan telah ‘belajar’ respons kondisi dengan satu stimulus, ada kemungkinan juga ia merespons stimuli yang sama tanpa latihan lanjutan.  Jika seorang anak digigit oleh seekor anjing hitam besar, anak tersebut bukan hanya takut kepada anjing tersebut, namun juga takut kepada anjing yang lebih besar.  Fenomena ini disebut generalisasi. Stimuli yang kurang intens biasanya menyebabkan generalisasi yang kurang intens. Sebagai contoh, anak tersebut ketakutannya menjadi berkurang terhadap anjing yang lebih kecil.
  1. 4.      Diskriminasi
Kebalikan dari generalisasi adalah diskriminasi, yaitu ketika seorang individu belajar menghasilkan respons kondisi pada satu stimulus namun tidak dari stimulus yang sama namun kondisinya berbeda.  Sebagai contoh, seorang anak memperlihatkan respons takut pada anjing galak yang bebas, namun mungkin memperlihatkan rasa tidak takut ketika seekor anjing galak diikat atau terkurung dalam kandang.
Contoh penerapanya yaitu ketika setiap 10 menit menjelang jam mata pelajaran habis siswa akan diberikan pertanyaan-pertanyaan mengenai pembelajaran yang telah dilakukan  dimana bagi siswa yang mampu menjawab dan menyelesaikan tugas yang diberikan akan diberikan kesempatan pulang lebih awal/atau akan mendapatkan tambahan point nilai, hal ini dilakukan terus menerus sehingga, ketika reward itu tidak lagi diberikan siswa sudah terbiasa menjawab pertanyaan/tugas yang diberikan guru.
Ketika menanamkan sebuah konsep contohnya penjumlahan kepada siswa kelas rendah, guru memberikan stimulus berupa gambar-gambar konkrik seperti buku dan pena atau jari dalam pembelajaran penjumlahan, lama-kelamaan pengunaan media tersebut dikurangi, walaupun penggunaan media konkrik itu dikurangi atau ditiadakan siswa tetap dapat memahami/mengerti tentang pembelajaran tsb.



Sumber: http://mukhliscaniago.wordpress.com/2012/05/04/teori-ivan-pavlov/
Share this Article on :

0 komentar:

Poskan Komentar

 

© Copyright NEGERI KOPI 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.